MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

PENGADILAN AGAMA AMBARAWA

Jl. Mgr. Soegijopranoto no. 105, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, 50614
Home / Berita / Dari Mimbar Idul Adha, Ketua PA Ambarawa Gaungkan Perlindungan Kaum Rentan

Dari Mimbar Idul Adha, Ketua PA Ambarawa Gaungkan Perlindungan Kaum Rentan

Ambarawa – Pagi itu, halaman Kantor Kecamatan Bawen tak hanya dipenuhi gema takbir dan hamparan sajadah Iduladha. Di antara ratusan jamaah yang hadir, terselip kegelisahan yang terasa nyata, tentang kejujuran yang mulai langka, keberanian berkata benar yang perlahan memudar, hingga anak-anak yang justru menjadi korban di ruang pendidikan mereka sendiri.
Di mimbar Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026), Ketua Pengadilan Agama Ambarawa, Muh Irfan Husaeni, tampil bukan hanya sebagai imam dan khatib. Ia datang membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar khutbah seremonial, sebuah seruan moral untuk masyarakat luas.
“Kesempatan baik ini saya gunakan untuk public campaign, menyerukan integritas dan kejujuran kepada publik yang lebih luas,” kata Irfan.
Menariknya, Irfan tidak memulai khutbahnya dengan bahasa-bahasa langit yang jauh dari realitas. Ia justru mengangkat fenomena yang sedang viral dan dekat dengan generasi muda. Lomba cerdas cermat siswa SMA, ketika peserta dengan sopan mengoreksi penilaian juri. “Izin, jawaban kami sama dengan regu B,” begitu kalimat sederhana yang menurut Khatib justru menyimpan pelajaran besar tentang keberanian menyampaikan kebenaran dengan adab.
“Kalau anak SMA saja berani menyampaikan kebenaran dengan sopan santun, maka kita sebagai orang tua seharusnya lebih berani lagi membela yang benar,” tegasnya di hadapan jamaah. Kalimat itu sontak membuat khutbah terasa berbeda. Tidak menggurui, tetapi menampar dengan halus.
Kelompok Rentan Harus Dilindungi
Namun khutbah itu mencapai titik paling sunyi sekaligus paling menggetarkan ketika Irfan mulai menyinggung maraknya tindakan asusila dan kejahatan seksual di lingkungan pendidikan. Nada suaranya tetap tenang, tetapi pesannya terasa tajam. Ia mengingatkan bahwa peserta didik adalah kelompok rentan yang seharusnya dilindungi bersama, bukan justru dilukai oleh orang-orang yang mestinya menjadi teladan. “Pertahanan keimanan dimulai dari rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Semua harus saling mengawasi karena korban bisa jatuh di mana saja,” ujarnya.

We use cookies to personalise content and ads, to provide social media features and to analyse our traffic. We also share information about your use of our site with our social media, advertising and analytics partners. View more
Cookies settings
Accept
Privacy & Cookie policy
Privacy & Cookies policy
Cookie name Active
Save settings
Cookies settings