
AMBARAWA (20/04/2026) – Integritas bukan sekadar slogan, melainkan napas utama dalam pelayanan publik. Pesan kuat inilah yang digaungkan oleh Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama (Dirjen Badilag) Mahkamah Agung RI, Dr. Drs. H. Mukhlis, S.H., M.H., saat memimpin apel pagi di halaman Kantor Pengadilan Agama Ambarawa, Senin (20/04).
Kunjungan kerja yang dikemas dalam bentuk apel kesiapan ini menjadi momentum krusial bagi seluruh aparatur peradilan di Ambarawa untuk mempertebal benteng integritas.
Komitmen Nol Gratifikasi: Dari Hal Terkecil
Dalam amanatnya, Dr. H. Mukhlis menekankan sikap nol toleransi terhadap gratifikasi. Beliau memberikan instruksi tegas untuk menolak segala bentuk pemberian dari pihak berperkara, bahkan untuk hal-hal yang sering dianggap sepele.
“Komitmen kita adalah menolak gratifikasi dalam bentuk apa pun, bahkan sekadar kopi, teh, atau air minum. Ini bukan soal nilai materinya, tapi tentang prinsip bahwa integritas kita tidak bisa dibeli dengan apa pun,” tegas Dirjen Badilag di hadapan peserta apel.
Melayani, Bukan Dilayani
Beliau juga memperingatkan adanya potensi pergeseran batasan integritas yang bermula dari “kebiasaan” jamuan atau pelayanan berlebih kepada pejabat yang berkunjung. Dr. H. Mukhlis menegaskan bahwa kehadirannya di Ambarawa bukan untuk mendapatkan perlakuan istimewa.
“Kunjungan saya ke sini bukan untuk dilayani, melainkan untuk memastikan bahwa pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan benar dan program-program prioritas Mahkamah Agung terlaksana dengan baik di lapangan,” imbuhnya.
Filosofi Integritas: Membiasakan yang Benar
Menutup arahannya, Dirjen Badilag menyampaikan pesan filosofis yang mendalam mengenai hakikat kejujuran. Beliau mengingatkan bahwa ujian integritas yang sesungguhnya bukan terjadi saat dalam pengawasan, melainkan saat seseorang dihadapkan pada hal kecil yang dianggap “lumrah” padahal menyalahi aturan.
Poin kunci yang ditekankan antara lain:
- Transformasi Budaya: Jangan pernah membenarkan kebiasaan, tetapi mulailah membiasakan hal-hal yang benar.
- Integritas sebagai Ruh: Kejujuran harus menjadi ruh dan napas bagi seluruh keluarga besar peradilan dalam menjalankan tugas harian.
- Nilai yang Abadi: Beliau berharap nilai-nilai luhur ini tidak hanya menjadi seremonial sesaat, namun terpatri kuat dan hidup selamanya dalam sanubari warga peradilan.
Apel ini diakhiri dengan semangat baru bagi seluruh jajaran PA Ambarawa untuk terus menjaga kemandirian lembaga dan memastikan keadilan tegak tanpa intervensi maupun kontaminasi praktik-praktik tidak terpuji.